Menghardik Nasib yang (Semakin) Malang

Tidak ada satu anak muda jaman sekarang yang tidak apes. Paman Donald pun terkenal karena selalu tertiban sial. Sial atau Apes, adalah suatu keadaan yang terjadi yang hasilnya tidak menguntungkan diri sendiri. Contoh, sedang enak enak jalan kaki, tiba tiba kepala kejatuhan buah kelapa. Dari sekian banyak titik untuk mendarat, si buah kelapa itu memilih untuk menghantam kepala orang ini. Sial betul.

Apa biasanya yang dilakukan ketika kesialan itu menghinggapi diri? Biasanya manuasia langsung mengutuk keadaan. Tangan dikepalkan keatas, mulut langsung monyong – monyong sembari teriak, “Kenapa harus gw yang ketiban kelapa sih!??” seraya tangan yang satunya mengusap usap kepalanya yang sedikit benjol. Ketiban kelapa di kepala itu sakit loh!

Ungkapan kekecewaan itu ditujukan untuk siapa? Pasti Tuhan. Karena urusan yang seperti itu sudah tertulis dari kita lahir sampai kita meninggal nanti. Mengutuk keadaan yang malang membuat pikiran kita liar. Seakan akan, cuma kita saja yang nasibnya buruk dan tidak mulus.

Setiap sial yang terjadi pada seseorang mungkin akan beda kadarnya dengan sial orang lain. Bisa kita bayangkan jika saat mau pulang kantor, uang kertas 10 ribu yang Anda siapkan untuk ongkos tiba tiba lenyap dan saat itu Anda tidak punya uang sisa. Pilihannya cuma satu, jalan kaki. Karena saat Anda mau pinjam uang keteman teman Anda, HP dalam keadaan mati karena Anda lupa charge di kantor. Terdengar cukup sial bagi Anda?

Bagi Ellon Musk, level sial bagi dia jauh diatas imaginasi yang saya tulis di atas. Karena urusan ngetwit, perusahaan otomobil miliknya mengalami kerugian jutaan dollar ditambah posisinya yang sekarang harus digeser sebagai CEO karena nampaknya Ellon mulai goyang dengan segala issue yang menerpa Tesla dan yang lain lain.

Sial bagi saya adalah ketika masa muda saya habis tanpa memiliki barang yang saya idam idamkan: Playstation. Bajingan! Lebih dari 20 tahun saya tidak bisa, tidak mampu bahkan tidak sempat untuk memiliki video games itu. Bagi saya itu adalah kesialan yang memalukan.

Bermain game puncaknya adalah di masa sekolah, bersama teman teaman, masa dimana belum ada tanggung jawab cari uang, masih banyak waktu tanpa harus dipotong dengan mengurusi rumah, anak atau istri, tanpa canggung pulang malam atau sampai menginap. Itulah keindahan dan keseruannya. Di masa dewasa saat ini, beda cerita. Kalaupun bisa, tidak bisa lama lama lagi bermain, tidak sampai ke level puas. Sialnya, saya melewati itu dengan bermain Playstation bukan dirumah sendiri dan parahnya, saya harus membayar per jam untuk bisa menikmati itu bersama teman teman yang lain.

Masa itu sudah tidak bisa diputar lagi bukan? Main hingga larut, bisa teriak teriak melampiaskan emosi saat bermain, ah. Untuk kalian yang masih muda, nikmatilah masa muda mu sebelum datang masa tua mu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.