Terkurung Pola Pikir

Seketika saya melihat beberapa commuter berhamburan sambil berlari. Pagi itu sekitar hari Selasa, langit memuntahkan isinya dengan puas. Wanita – wanita muda yang sudah dandan cantik, terpaksa harus mengusap wajah mereka dengan handuk kecil dari cipratan air hujan. Aneka warna payung menghiasi pinggir jalan di Gil Puyat Ave. Alat sederhana yang mulai jamak digunakan di Tiongkok, Mesir, Roma pada abad 4 sebelum masehi ini memang barang yang setengah wajib dibawa di kota Manila. Karena agaknya sedikit canggung jika harus membawa jas hujan kemana mana, kan?

Barangay San Isidro adalah satu nama kelurahan di Kota Makati dan itu tempat saya tinggal. “Datanglah lagi esok setelah jam 10 pagi” ucap tukang buah mangga saat saya bertanya jam berapa tukang cukur dekat rumah saya buka, rambut saya mulai gondrong. Dia tumbuh begitu cepat saat saya sedang stress. Bersegeralah saya melanjutkan perjalanan pagi menuju tempat bus bus antar kota biasa menarik penumpang – di depan toko bangunan – dan disitu lah saya menanti bus besar yang memajang tulisan “Baclaran” di muka. Tempat tinggal saya tidak jauh dari jalan, bahkan lebih tepatnya, berada di pinggir jalan persis. Untungnya, dia berlantai 6, setidaknya asap debu dari bisingnya knalpot jeepney tidak mengotori kamar saya yang kamar mandinya di dalam ini.

“Baclaran, Baclaran!” teriak kondektur sembari memberikan tanda untuk masuk ke dalam. Saya masuk bergiliran dengan para pekerja, tukang bangunan dan seorang ibu tua yang membawa tas lusuh, sesaat setelah bus benar benar berhenti dan menurunkan penumpang terlebih dahulu. Beberapa pria muda menawarkan bangkunya di belakang supir untuk si Ibu tua ini, padahal dibelakang masih banyak bangku kosong. “Masuk saja mas” ucap kondektur ke beberapa pria yang masih berdiri didepan saya. “Masih ada tempat duduk disitu” sambung si kondektur sambil menunjuk bangku bangku kosong dibagian belakang. Bus jurusan ini memang tidak banyak peminatnya, meskipun saat itu adalah jam sibuk padahal tujuan akhirnya adalah terminal yang dekat dengan bandara. Sayangnya, daerah ini bukan daerah komersial.

Perjalanan pagi saya sebetulnya pendek, hanya 3KM dari rumah. Karena hanya 3KM ini pula rasanya tanggung sekali kalau memilih jalan kaki. Pola pikir yang biasanya menggunakan angkutan pribadi selama di Jakarta karena lebih ringkas dan hemat berubah 180 derajat. Saya lebih senang menggunakan angkutan umum, seperti Bus dan Jeepney. Tadinya saya berniat untuk mengikuti jejak teman teman saya di Jakarta yang menggunakan sepeda untuk berangkat kerja. Hujan dan angin topan yang kadang datang tiba tiba mengurungkan niat saya. Sepertinya, walau lebih sehat tapi kalau harus basah kuyup ketika tiba di kantor rasanya tidak keren. Lagipula, gedung tempat kantor saya bukan jenis gedung yang mempunyai tempat parkir khusus sepeda.

Sebagai perantauan, saya banyak belajar dari orang orang baru yang saya kenal di tempat tinggal saya sekarang – dari berbagai kebudayaan dan negara – saya senang mendengarkan cerita dari orang yang saya baru temui. Cerita tentang kehidupan mereka, kisah cinta, kisah mengasuh anak, kisah mengembangkan bisnis, kisah menjadi penggangguran. Semuanya. Cerita cerita itu bahkan masih menempel kuar dibenak saya ketika saya berjumpa dengan orang orang tadi satu atau dua tahun kemudian. Dari cerita cerita itu saya menggali kembali sekaligus meluaskan kembari pola pikir saya terhadap dunia.

Sebagai orang muda yang masih minim pengalaman, saya merasa beruntung bisa belajar untuk membuka pikiran saya. Memang itu tidak lepas dari pola asuh orang tua dan lingkungan keluarga yang senang merantau. Sejak duduk di bangku SMK, saya lebih senang menghayal untuk tinggal dan cari makan jauh dari rumah. Nyatanya, saat masa kuliah datang, kesempatan untuk pergi jauh dari rumah datang. Kesempatan itu datang bukan dengan tidak sengaja tapi saya mati matian untuk mencari dan membuka pintu kesempatan itu. Entah jadi apa saya jika saya tidak mengejar mimpi saya saat itu.

Ketika saya masih kecil, masa masa dimana masih sulit menerima informasi yang kadar logikanya melampaui kemampuan berpikir saya saat itu, rasanya bekerja secara profesional di luar negara sendiri itu sesuatu yang sulit, besar dan tidak tergapai. Apa dasar? Dengan pengalaman yang nyaris tidak ada dan kemampuan bahasa Inggris yang tidak terlalu bagus, saya punya mimpi bisa tinggal dan cari nafkah di luar Indonesia. Tidak sekedar berlibur, tidak sekedar mampir tapi juga tinggal dan bekerja. Di masa tersebut buat saya saja saya enggan bermimpi besar. Bermimpi saja malu, bagaimana saya bisa maju?

Saya kira, susah atau mudahnya sesuatu saat itu di kendalikan oleh alam bawah sadar saya. Saya mulai banyak membaca aneka literatur yang membahas tentang mimpi mimpi saya. Pertanyaannya adalah, apakah hal yang saya tanam ini achievable atau tidak? Bagaimana memulainya? Apa kebutuhannya? Semua pertanyaan pertanyaan itu saya kumpulkan dan saya jawab dengan jujur berdasarkan kemampuan, pengalaman dan kemauan. Orang umum sebut metode ini adalah brainstorming.

Jadi, sudah siapkah diri ini berfikir lebih luas dan menerima pikiran pikiran yang baru yang bisa mengubah pola pikir?

Leave a Reply

Your email address will not be published.